Sesukses
apapun orang itu, pasti dia pernah mengalami kegagalan. pada tahun 2015 Ya aku
adalah seorang calon mahasiswi berumur hampir 18 tahun. waktu itu Aku memang
belum menjadi seorang mahasiswi, tapi aku sedang dalam proses menggapai gelar
tersebut. Berawal dari tahun 2015, iya 2 tahun lalu. Aku mengikuti seleksi
nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) daftar melalui sekolah. jalur
yg dimana yg diharapkan banyak pelajar SMA di seluruh indonesia secara jalur yg
hanya menggunakan nilai rapot tanpa harus mengikuti ujian tertulis.
Awalnya tidak percaya diri karena banyaknya pesaing
nilai-nilai tertinggi dan prestasi-prestasi lainnya yg dimiliki beberapa teman
di angkatan 2015 waktu itu. dan oleh karena ada banyak faktor yang membuat
semangatku muncul, akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti seleksi tersebut.
Aku sepakat dengan temanku, untuk mendaftar di satu wilayah yang sama yaitu
universitas diponegoro hehe dengan prodi yg berbeda saat itu ngambil akuntansi
dan manajemen dan temanku mengambil prodi hukum. Kita berdua sudah merasa sangat yakin bisa
lolos di seleksi ini. melihat nilai raport kita yang tidak begitu rendah dan
tidak berbeda jauh tapi ini hanya itungan matematik statistika rapot.
Dan, Hari yang ditunggu pun tiba pada bulan mei tepat 3
hari setelah ulang tahunku yg pengumuman pada tanggal 9 mei, aku sudah merasa
sangat percaya bahwa aku dan temanku bisa lolos dikampus yang kita inginkan
untuk bersama. Dan saat aku membuka pengumuman tersebut, jauh dari
ekspektasiku, ternyata aku tidak lolos, aku sangat kecewa saat itu hanya
temanku saja yg lolos sesuai keinginannya yaitu prodi S1 Hukum. Aku merasa ini
sangat tidak adil, aku merasa sudah semaksimal mungkin berusaha.
Dan yang lebih membuatku sedih. Tidak apa-apa, aku tidak
boleh egois, saat itu selalu mendapatkan dukungan dan dorongan moral baik dari
jasmani rohani dan psikis oleh keluarga. Mungkin, disinilah pucak keputus
asaanku. Aku merasa menjadi orang paling bodoh. ya malu, merasa minder, dan
sempat tidak ingin melanjutkan kuliah karena takut gagal dalam test lagi. Namun
aku berfikir, akan jadi apa jika tidak melanjutkan kuliah? Aku masih memiliki
orangtua yang harus aku buat bangga karena kedua kaka tembus di ptn yg 10 besar
ptn favorit di indonesia (ugm dan undip) .
kemudian ga lama dari pengumuman snmptn dibukalah
pendaftaran online SBMPTN namanya. pada h-2 minggu sebelum penutupan malamnya
temanku menelfon menanyakan bagaimana kabar nya dan memberika dukungan dan
dorongan moral untuk tidak down lagi. setelah itu paginya pun mendaftar dengan
pilihan prodi yg sama dan kampus. Aku
tidak ingin lagi berharap lebih, yang jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan
hanya menghasilkan rasa kecewa. Dengan tekad yang kuat, aku memberanikan diri
untuk mengikuti test itu sendiri kesemarang tanpa ibu dan ayah ataupun keluarga
yang mendampingi karena waktu itu dengan pilihan diluar jakarta. Kali ini, aku
sudah pasrah dengan apapun hasilnya.Walaupun begitu, aku bersyukur memiliki
keluarga yang selalu mendukung apapun cita-citaku. Terimakasih Allah, engkau
telah menitipkanku kepada orang yang tepat.
Namun, lagi-lagi kegagalan itu kembali aku alami, saat
pengumuman bukan lagi keinginan dengan jurusan yg ku mau tetapi melainkan
pilihan di ketiga ku dengan melainkan bukan kemampuan ku tetapi 1 kampus yg
sama dengan temanku. Sampai pada akhirnya, aku tetap memilih untuk tetap usaha
demi mendapatkan satu buah kursi di perguruan tinggi negeri yang aku impikan dengan
jurusan yg ku inginkan. Dalam doa disetiap shalatku, aku selalu berdoa, agar
aku bisa diberi umur panjang untuk bisa membanggakan keluarga. pada saat itu
berbagai test online ku ikuti sampe pada pendaftaran seluruh ptn yg terakhir
dengan menggunakan jalur mandiri akhirnya pada 2015 bulan agustus adalah
rezekiku mendapatkan sesuai jurusan yg di inginkan, setelah sekian kalinya
jatuh saat pengumuman, aku percaya semua sudah allah atur sedemikian indahnya.
Man jadda wa jaddaPercayalah, usaha tidak akan
mengkhianati hasil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar