Aku ingin yakin, bahwa kemanapun cinta itu pergi, dia akan kembali lagi
ke rumahnya walau dengan segala perubahan yang ada. Bahwa kemanapun
cinta itu pergi, dia akan kembali kepada orang yang selama ini selalu
ada dan selalu berusaha membuatnya nyaman, seperti rumahnya.
Bahwa
kemanapun cinta itu pergi,
cepat atau lambat dia akan menghentikan
pencarian dan berlabuh pada dermaga yang sebenarnya selalu menantikan
kepulangannya, seperti rumahnya.
Tapi cinta selalu berkata apa yang dia inginkan. Kembalilah. Aku
percaya, “ sesuatu yang sudah kita buang,kita tinggalkan, jauh. Tapi dia
datang kembali. Maka itu cinta sejati.” Aku sudah berjalan berbalik
arah sampai jauh sekali dari titik kamu melepaskanku.
Tapi kamu berbalik
berlari kearahku memanggil namaku dan mengingatkanku akan kenangan kita
yang lalu yang indah.
Aku bisa apa? Tetap menunduk pura-pura tak
mendengar padahal ingin rasanya berteriak, aku merindukanmu, masih
mencintaimu. Itu berat sekali. Entah apapun, aku sudah tak peduli. Aku
melepaskan semuanya semua perasaan yang menahanku untuk kembali padamu,
aku memberontak pada diriku sendiri.
Sang cinta sedang singgah untuk sekedar berehat sejenak kini. Meski
terpisah jauh saat ini, hati kecil pelan berbisik kembalilah ketika kau
siap. Mungkin keegoisan dan kegengsian kitalah yang menjadi dinding
tinggi, membatasi segala rasa berkata tidak tapi nyatanya iya.
Kata
'iya' seperti emas di antara kita, saling mencinta tapi tidak untuk
bersama. Kadang aku pun lelah lalu menyerah, situasi ini penjebak
asa ku, kadang relung hati terdalam sengaja mengungkit lagi nama itu dan
hanya nama itu. Satu hal yang aku tau, mungkin sang cinta juga
merinduku. Yang pasti, seperti yang aku dengar "Karena cinta tau kemana
dia harus pulang. Karena cinta tau kemana dia akan pulang. Dan cinta tau
dimana rumahnya."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar