Senin, 31 Oktober 2016

karena cinta tau kemana dia harus pulang

Aku ingin yakin, bahwa kemanapun cinta itu pergi, dia akan kembali lagi ke rumahnya walau dengan segala perubahan yang ada. Bahwa kemanapun cinta itu pergi, dia akan kembali kepada orang yang selama ini selalu ada dan selalu berusaha membuatnya nyaman, seperti rumahnya.
Bahwa kemanapun cinta itu pergi,
cepat atau lambat dia akan menghentikan pencarian dan berlabuh pada dermaga yang sebenarnya selalu menantikan kepulangannya, seperti rumahnya.

Tapi cinta selalu berkata apa yang dia inginkan. Kembalilah. Aku percaya, “ sesuatu yang sudah kita buang,kita tinggalkan, jauh. Tapi dia datang kembali. Maka itu cinta sejati.” Aku sudah berjalan berbalik arah sampai jauh sekali dari titik kamu melepaskanku.
Tapi kamu berbalik berlari kearahku memanggil namaku dan mengingatkanku akan kenangan kita yang lalu yang indah.
Aku bisa apa? Tetap menunduk pura-pura tak mendengar padahal ingin rasanya berteriak, aku merindukanmu, masih mencintaimu.  Itu berat sekali. Entah apapun, aku sudah tak peduli. Aku melepaskan semuanya semua perasaan yang menahanku untuk kembali padamu, aku memberontak pada diriku sendiri.

Sang cinta sedang singgah untuk sekedar berehat sejenak kini. Meski terpisah jauh saat ini, hati kecil pelan berbisik kembalilah ketika kau siap. Mungkin keegoisan dan kegengsian kitalah yang menjadi dinding tinggi, membatasi segala rasa berkata tidak tapi nyatanya iya.
Kata 'iya' seperti emas di antara kita, saling mencinta tapi tidak untuk bersama. Kadang aku pun lelah lalu menyerah, situasi ini penjebak asa ku, kadang relung hati terdalam sengaja mengungkit lagi nama itu dan hanya nama itu. Satu hal yang aku tau, mungkin sang cinta juga merinduku. Yang pasti, seperti yang aku dengar "Karena cinta tau kemana dia harus pulang. Karena cinta tau kemana dia akan pulang. Dan cinta tau dimana rumahnya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar